Pada tahap selanjutnya, tanda-tanda kecanduan akan semakin jelas terlihat baik dari sisi fisik maupun perilaku. Mereka mungkin berjanji untuk berhenti atau mengurangi minum, namun gagal melakukannya berulang kali. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan sudah berkembang lebih jauh dan tidak lagi sekadar kebiasaan.
Selain itu, salah satu tanda yang umum adalah munculnya toleransi terhadap alkohol. Artinya, seseorang membutuhkan jumlah alkohol yang lebih banyak untuk merasakan efek yang sama seperti sebelumnya. Hal ini terjadi karena tubuh telah beradaptasi dengan paparan alkohol yang terus-menerus.
Gejala lain yang sering muncul adalah adanya gejala putus zat atau withdrawal ketika tidak mengonsumsi alkohol. Beberapa di antaranya meliputi gemetar, berkeringat, mual, cemas, hingga sulit tidur. Dalam kasus yang lebih parah, gejala ini bisa disertai dengan kebingungan, halusinasi, atau bahkan kejang. Kondisi ini menunjukkan bahwa tubuh sudah sangat bergantung pada alkohol untuk berfungsi secara normal.
Dari sisi psikologis, orang yang kecanduan alkohol cenderung mengalami perubahan suasana hati yang drastis. Mereka bisa menjadi lebih mudah marah, depresi, atau cemas. Selain itu, fokus dan kemampuan mengambil keputusan juga dapat menurun. Hal ini berdampak pada produktivitas kerja maupun kualitas hubungan dengan orang lain.
Dalam kehidupan sosial, kecanduan alkohol sering kali menyebabkan masalah hubungan dengan keluarga, teman, atau rekan kerja. Seseorang mungkin mulai menarik diri dari lingkungan sosial atau justru terlibat dalam konflik yang berulang. Tidak jarang pula tanggung jawab sehari-hari menjadi terabaikan, seperti pekerjaan, pendidikan, atau kewajiban rumah tangga.
Konsumsi alkohol berlebihan dalam waktu lama dapat merusak organ tubuh, terutama hati, jantung, dan otak. Beberapa penyakit yang dapat muncul antara lain sirosis hati, gangguan jantung, gangguan saraf, hingga peningkatan risiko kecelakaan akibat penurunan kesadaran.
Mengatasi kecanduan alkohol bukanlah hal yang mudah, karena melibatkan aspek fisik dan psikologis. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat penting dalam proses pemulihan. Terapi perilaku, konseling, serta program rehabilitasi dapat menjadi langkah yang efektif untuk pemulihan.
Baca juga : https://miksemar.id/daerah-terdingin-di-indonesia-yang-jarang-diketahui/
Dengan memahami ciri-ciri, penyebab, Edukasi yang tepat juga dapat membantu mencegah terjadinya kecanduan sejak awal, sehingga kualitas hidup tetap terjaga baik secara fisik, mental, maupun sosial.